Persahabatan adalah sebuah kata yang mempunyai arti yang sangat dalan.Persahabatan juga sangat menentukan alur kehidupanku saat ini.Sahabat itu sangat kita perlukan, karena merekalah yang akan memberikan kita nasehat terbaik dan mereka tentunya bisa memberikan ketenangan ketika kita sedang merasa tidak tenang.Tetapi terkadang mereka dapat berlaku menyebalkan dan dapat menyakiti hati kita tanpa mengetahui bahwa hati kita benar-benar sakit dan tidak menyukai akan kata-kata yang mereka keluarkan.
Sekarang aku memiliki sahabat yang sangat berarti untuk hidupku.Sebenarnya persahabatan ini kami mulai sejak tiga tahun yang lalu.Kami bisa bersahabat seperti sekarang ini berkat adnya pertemuan siswa siswi antar sekolah dimana kami semua mewakili sekolah kami untuk membicarakan tentang permasalahan lingkungan.
Dulu kami semua masih SMP. Ketika itu kami semua berusaha unutk saling akrab tetapi itu sulit, dan pertama kali aku akrab dengan Kirana, dia adalah sahabatku sekarang ini, kami memulai persahabatan karena di awali perbedaan pendapat antara kami berdua, saat itu kami mendebatkan bagaimana cara mengatasi pengurangan adanya gas CFC, kami berdebat sangat serius kala itu, dan akhirnya kami berpikir, kenapa kami nyaris saja bertengkar hanya karena meributkan masalah ini, sebenarnya kami bisa membicarakan hal ini dengan baik-baik, karena itulah kami mulai saling dekat dan bercerita mengenai hal lain.Setelah acara itu berakhir, kami masih saling berhubungan dan tentu saja kami sudah mengenal satu sama lain kala itu.
Saat tahu ajaran baru kami berusaha masuk ke SMA yang sama, dan akhirnya kami satu sekolah, kami dapat masuk sekolah itu melalui jalur tes.Ternyata tanpa kami duga, kami bisa duduk di kelas yang sama, itu cukup membahagiakan, karena kami dapat terus salaing bercerita satu sama lain.
“Kirana, aku tidak menyangka kalau kita bisa satu kelas.”
“Menurut aku itu bagus Li.”
“Benar?”
“Iya, masa aku bohong.”
“Berarti kita bisa lebih sering cerita-cerita dan juga bisa lebih sering belajar bareng.”
“Iya, benar sekali, persahabatan kita bisa tambah merekat.”
Tiba-tiba aku berpikir, kenapa lingkungan di sekolah ini gersang? Beda sekali dengan lingkungan sekolahku dan Kirana dulu, bukan sekedar beda tetapi sangat beda.Pepohonan di sekolah ini sangat sedikit dan justru banyak lahan yang dibiarkan ditumbuhi ilalang, itu sangat menyedihkan.
“Liana, apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Aku hanya memikirkan kenapa lingkungan di sekolah ini sangat gersang ya?”
“Iya, kenapa aku baru sadar ya?”
“Aku juga baru sadar.”
“Wah ternyata parah juga ya.”
“Iya bagaimana kalau kita rubah lingkungan sekolah ini sedikit demi sedikit.”
“Boleh juga, walaupun sedikit pasti akan sangat berarti.”
“Kapan kita mulai?”
“Bagaimana kalau besok? Kita bisa membawa pohon-pohon kecil yang ada dirumah kita, lalu kita tanam di lahan kosong itu.”
“Iya benar benar.”
“Lalu apa lagi yang mesti kita lakukan?”
“Kita harus bisa membuat anak sekolahan di sini mau berbuat seperti kita juga, jangan hanya kita yang bekerja.”
“Bagaimana kalau kita beritahukan kepada mereka untuk mebawa tanaman yang ada di rumah masing-maing?”
“Wah bagus juga idemu.”
“Tentu saja.”
“Ya sudah, bel sudah mau bunyi, kita harus belajar sekarang.”
Setelah percakapan tersebut, besoknya kami berdua memulai renana kami, kami mulai menanam tanaman yang kami bawa.Banyak juga orang yang memperhatikan, tidak hanya murid gurupun memperhatikan kami.Awalnya kami canggung tetapi akhirnya kami berpikir, kenapa kami mesti canggung, kami melakukan ini untuk sekolah kami, kami melakukan hal ini juga agar orang lain memiliki kemauan untuk berbuat seperti kami juga.
Beberapa hari setelah itu banyak murid yang membawa beraneka ragam tanaman-tanaman dari rumah mereka.Kami tidak menyangka mereka akan sadar secepat ini. Tentunya kami sangat senang melihat keadaan itu, bahkan kami benar-benar senang karena kami dapat menginspirasikan mereka.Tetapi besoknya kami berdua dipanggil oleh kepala sekolah.Kami benar-benar takut, kami takut kalau perbuatan kami tidak disukai oleh pihak sekolah.
“Bagaimana ini Li?’
“Apa yang akan mereka katakan kepada kita nanti?”
“Apa mereka akan marah kepada kita?”
“Tunggu kenapa kita saling bertanya?”
“Li, aku yang pertama kali bertanya.”
“Benar juga, baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu dulu, aku rasa mereka akan mengatakan terima kasih, sekarang kamu yang harus menjawab pertanyaanku.”
“Aku rasa mereka akan marah kepada kita.”
“Kenapa begitu, kitatidak melakukan hal yang salah.”
“Ya sudahlah daripada kita bingung lebih baik kita datang ke ruang kepala sekolah.”
Dengan dibekali persaan takut, akhirnya kami berani masuk ke ruangan kepala sekolah.Kami tidak tahu harus mengatakan apa nanti tetapi kami harus berani bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kami lakukan.Kami harus berani, karena apa yang kami lakukan akan berdampak baik juga nantinya.Perlahan-lahan kami mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
Lalu ia menjawab,”Iya silahkan.”
Akhirnya kami memasuki ruangan itu.
Aku memulai pembicaraan,”Permisi pak.”
Lalu ia menjawab dengan nada suara yang tegas,”Ya, kalian berdua Liana dan Kirana ya?”
“Iya benar pak.”
“Apa kalian tahu kenapa saya memanggil kalian ke ruangan saya?”
Dengan suara lantang Karina menjawab,”Sudah pak.”
Lalu aku ikut bersuara,”Apa karena kami menanami halaman denga tumbuhan pak?”
“Iya kalian benar sekali, kalian tau apa yang salah dari perbuatan itu?”
Dengan terburu-buru Kirana menjawab,”Ya pak kami tau.”
Bapak itu kembali bertanya,”Kalau boleh saya tau apa kesalahan kalian itu?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena aku rasa perbuatan kami sudah benar, tidak ada yang salah.Kami hanya mau membuat sekolah ini lebih hijau, walaupun kami hanya membantu sedikit demi sedikit.Aku berpikir Kiranalah yang harus menjawab pertanyaan ini, karena dialah yang berkata kalau dia tau apa kesalahan kami.Saat itu aku merasa Kirana membuat aku kesal, dia sama sekali tidak memberitahukan aku apa yang sedanga ia rencanakan, setelah kami membisu sesaat, akhirnya Kirana berani menjawab.
Ia menjawab,”Menurut kami pak, kami salah karena tidak memberitahukan pihak sekolah kalau kami merencanakan ini semua, kami sama sekali tidak meminta persetujuan dari sekolah.”
Lalu bapak kepala sekolah menjawab,”Ya kamu benar, kami sama sekali tidak mengetahui apa yang kalian rencanakan, tetapi apa yang kalian lakukan sangat baik.”
“Terima kasih pak.”jawab Kirana.
“Tetapi mestinya kalian meberitahukan pihak sekolah terlebih dahulu, agar kami bisa membantu apa yang bisa kami bantu.”
“Ya pak kami mengerti.”jawabnya lagi.
“Ya sudah kalian boleh keluar sekarang, lanjutkan pelajaran kalian kembali.”
“Terima kasih pak.”jawab kami serentak.
Setelah kami keluar dari ruangan kepala sekolah, aku hanya terdiam, karena aku tidak menyangka Kirana akan menyelesaikan masalah ini sendiri, harusnya dia bisa membicarakannya dulu denganku, tetapi itu sama sekali tidak ia lakukan, sungguh itu sangat mengecewakanku.Tiba-tiba Kirana mengusik lamunanku.
“Li, kamu marah ya?”
“Menurut kamu.”
“Iya.”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku hanya bertindak sendiri, tanpa menanyakan apa pendapatmukan?”
“Ternyata kamu tahu.”
“Tentu aku tahu, karena aku sudah lama bersahabat denganmu Li.”
“Lalu kenapa kamu melakukan itu kalau kamu sudahtahu aku tidak menyukainya?”
“Apa kamu tidak sadar? Kalau kita hanya diam, kepala sekolah itu akan merasa tidak di hormati olek kita berdua.”
“Apa yang kamu katakan benar juga, tetapi aku masih merasa kurang senang Ran.”
“Aku benar-benar minta maaf Li, aku benar-benar tidak berniat melukai perasaan kamu Li, maaf.”
“Ya aku sudah maafkan kamu tapi aku perlu menenangka diri dulu, bolehkan aku minta waktu sendiri dulu?”
“Ya sudah aku akan coba beri kamu waktu dulu, aku duluan ya Li.”
“Iya, makasih ya Ran.”
Setelah Kirana meninggalkan aku sendiri aku mulai berpikir secara positif, Kirana sudah cukup lama bersahabat denganku, tidak mungkin dia berlaku jahat kepadaku.Aku akhirnya bisa merasakan ketulusan hatinya, aku bisa merasakan apa yang dia lakukan itu demi kebaikan kami berdua.Kalau tadi aku yang berbicara dengan bapak kepala sekolah, pasti aku akan menjawab kalau apa yang kami lakukan sudah benar dan aku pasti akan menyalahkan pihak sekolah karena tidak memperhatikan keadaan lingkungan sekolah ini.Itu pasi akan membahayakan kami, kami pasti akan dianggap sebagai murid yang tidak tahu sopan santun.Aku mestinya sangat bersyukur atas apa yang telah Kirana lakukan.Aku harus minta maaf kepada Kirana karena aku seolah-olah menyalahkannya atas semua yang telah terjadi.Akuharus minta maaf, harus, harus.
Setelah aku menghabiskan sedikit waktu untuk merenung, aku memutuskan untuk mencari Kirana, aku tidak mau menjadi seorang sahabat yang buruk.Aku berkeliling sekolah untuk mencarinya, tetapi sekian lama aku mencarinya, aku tidak juga bisa menemukannya.Aku benar-benar merasa bersalah, aku takut dia akan meninggalkanku, aku takut dia tidak mau lagi bersahabat denganku, aku merasa perasaanku sekarang ini sedang di selimuti perasaan ketakutan.Tapi aku tidak boleh taku.Aku hampir menangis kala itu, lalu seseorang datang dan mengagetkanku, lalu aku berbalik, dan ternyata dia Kirana, aku langsung memeluknya dan mengucapkan kata maaf.
“Kirana, aku minta maaf, tolong maafkan aku, karena pikiran negatif ini aku jadi marah kepadamu.”
“Tidak apa-apa Li, aku mengerti bagaimana perasaanmu, jangan menangis lagi ya.”
“Ran, terima kasih ya kamu sudah mau menjadi sahabatku yang baik, terima kasih Ran.”
“Iya Li, makasih juga kamu sudah mau menjadi sahabat yang baik juga buat aku.”
Semenjak saat itu, persahabatan kami semakin erat dan kami juga saling mengerti sifat kami masing-masing.Mulai saat ini dan sampai kapanpun Kirana adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
By: Vira Indah
Kumpulan Inspirasi dan Karya Pemuda Penyelamat Lingkungan
0 komentar:
Posting Komentar